---
Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts
Tuesday, January 28, 2014

Profesionalisme dalam Bekerja

Seringkali, tatkala kita mendengar kata “professional” atau “profesionalisme”, yang pertama kali timbul dalam pemikiran kita adalah sebuah profesi yang hebat, tinggi, dan membanggakan. Sehingga kaum professional dibayangkan sebagai seseorang yang memiliki pekerjaan bergengsi, mungkin dia seorang insinyur, dokter, dan lainnya.

Kali ini, kita menggunakan kata “professional” tidak identik dengan pekerjaan yang wah..!, tapi profesional yang bermakna seseorang yang melakukan fungsinya secara maksimal dengan komitmen yang penuh. Seorang guru, misalnya, jika melakukan fungsinya secara committed dan penuh tanggung jawab, maka dia dapat dikategorikan sebagai Professional Teacher.

Sebagian dari Anda mungkin telah pernah membaca rumusan etos kerja berikut ini di pintu kantor, di dinding ruang kerja, ruang rapat, meja kerja, lift, atau locker ruang ganti dsb.

1. Kerja adalah Ibadah; Aku Bekerja Serius Penuh Kecintaan
2. Kerja adalah Rahmat; Aku Bekerja Tulus Penuh Rasa Syukur
3. Kerja adalah Amanah; Aku Bekerja Benar Penuh Tanggungjawab
4. Kerja adalah Panggilan; Aku Bekerja Tuntas Penuh Integritas
5. Kerja adalah Aktualisasi; Aku Bekerja Keras Penuh Semangat
6. Kerja adalah Seni; Aku Bekerja Cerdas Penuh Kreativitas
7. Kerja adalah Kehormatan; Aku Bekerja Tekun Penuh Keunggulan
8. Kerja adalah Pelayanan; Aku Bekerja Paripurna Penuh Kerendahan hati

Selamat bekerja dengan profesional!
SD PANCASILA 45 Opini
Monday, November 25, 2013

Refleksi Hari Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Selamat Hari Guru
Peringatan hari guru yang jatuh pada tanggal 25 November tahun ini bisa dijadikan momentum untuk merefleksi apa yang telah dilakukan para guru ataupun para calon guru selama ini. Guru yang dalam bahasa Jawa bisa difilosofikan sebagai seorang yang bisa digugu dan ditiru yang maksudnya dipercaya, dianut dan ditauladani. Maka timbul pertanyaan sudahkah sebagai seorang guru ataupun calon guru saat ini tutur kata atau sikap sudah bisa dipercaya, dianut dan ditauladani?

Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani yang artinya  di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan adalah sebuah kalimat yang dicetuskan Ki Hajar Dewantara Bapak Pendidikan Indonesia. Kalimat tersebut memang seharusnya menjiwai semangat mengajar dan mendidik para guru pada era sekarang.

Guru menempati posisi penting dan sentral dalam proses pendidikan (pembelajaran). Berhasil tidaknya proses transfer ilmu (kepada anak didik) dalam kegiatan belajar mengajar ditentukan salah satunya oleh guru. Oleh karenanya peran besar guru tersebut harus ditopang dengan kualitas yang mumpuni dari tenaga pengajar (guru) itu sendiri. Guru haruslah sosok yang berkualitas dan mempunyai wawasan luas dengan kemampuan membentuk SDM-SDM yang cerdas, mandiri dan bermoral. Kalau tidak, guru akan menjadi pihak yang paling sering disalahkan ketika kondisi pendidikan berada pada posisi yang memprihatinkan (meskipun sebenarnya kesalahan tersebut tidak bisa sepenuhnya kita bebankan kepada guru). Oleh karena itu seorang guru dituntut memiliki multi kompetensi, baik pedagogik, sosial, maupun profesional. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah guru harus memiliki MORALITAS dan RELIGIUSITAS karena itu adalah ”benteng terakhir” pendidikan. Masih adanya oknum-oknum guru yang melecehkan dunia pendidikan dengan tindakan-tindakan mereka yang tidak bermoral dan asusila tentunya membuat kita bertanya-tanya ”Kalau gurunya sudah tidak bisa digugu dan ditiru bagaimana dengan anak didiknya?”

Di tengah usaha-usaha yang dilakukan pemerintah kota Surabaya untuk menjadikan Surabaya sebagai ”BAROMETER PENDIDIKAN NASIONAL” tentunya harus dibarengi dengan niatan yang tulus untuk bersama-sama merapatkan barisan untuk mewujudkan misi tersebut. Kita tanamkan dalam diri kita filosofi jawa ”Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe”. Oleh karena itu, momentum hari guru yang telah kita peringati hari ini semoga menjadi saat yang tepat bagi kita untuk bercermin kembali atas apa yang telah kita lakukan dan berfikir ke depan tentang apa yang harus kita perbuat untuk dunia pendidikan di negeri ini. (AA)


SELAMAT HARI GURU!



Unknown Opini
Friday, November 22, 2013

Opini: Sarana Belajar Komunikasi Dengan Menulis

Assalamu'alaikum Wr. Wb.


Kita tentunya saat ini sudah tidak asing lagi dengan istilah komunikasi, dimana terjadi hubungan interaksi atau timbal balik individu dengan individu yang lain. Komunikasi sendiri sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan tiap zaman bentuk komunikasi selalu berubah-ubah, di zaman prasejarah dulu bentuk komunikasi mungkin identik dengan gerak tubuh dan seiring waktu berlalu dan bahasa ditemukan maka bentuk komunikasi sekarang sering diucapkan dalam bentuk kalimat. 

Komunikasi saat ini juga telah semakin maju, dulu banyak masyarakat berkomunikasi dengan seseorang dengan cara menghampirinya atau bagi yang ingin berkomunikasi dengan seseorang lain kota atau lain pulau harus menulis surat dan itu dikirim melalui kantor pos, bahkan waktu diterimanya surat tersebut belum tentu tepat waktu. Saat ini dengan berkembangnya teknologi masyarakat tidak perlu lagi khawatir jika ingin menghubungi seseorang yang jauh dari tempatnya bahkan bisa lebih tepat waktu, sekarang sudah muncul handphone, internet, sosial media yang membantu seseorang dapat berkomunikasi dengan orang lain. Contohnya sosial media facebook yang sempat populer di tahun 2008 meskipun saat ini juga masih populer, facebook ini sangat berguna bagi kita untuk menemukan semisal teman kita yang sudah lama tidak pernah bertemu lagi dan komunikasi antar kedua individu tersebut dapat terjalin kembali. Banyak sekali sekarang masyarakat dalam berkomunikasi mengandalkan teknologi tidak seperti dulu  yang masih menggunakan alat-alat tradisional seperti kentongan. 

Perubahan ini tentu membawa dampak positif serta negatif bagi masyarakat, dampak positif dari kejadian ini adalah seseorang lebih mudah dalam berkomunikasi tentunya, seseorang lebih cepat mengirim pesan ke temannya tanpa menunggu berhari-hari lamanya. Dampak negatif dari kejadian ini seseorang menjadi ketergantungan dengan teknologi serta lebih menutup diri karena dapat berkomunikasi dengan orang lain tanpa bertemu secara langsung di dunia nyata sehingga membuatnya lebih sering di dalam rumahnya daripada bersosialisasi di luar. Dari dampak-dampak di atas tentu kita harus dapat menyeimbangkannya agar teknologi tidak membuat kita menjadi ketergantungan dan tentu kita harus dapat menggunakan teknologi yang selalu maju dengan pesat ini secara bijak. 

Nah, melalui tulisan ini saya mengajak teman-teman untuk belajar berkomunikasi dengan cara menuliskannya sebagai sebuah "OPINI". 


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pengertian Opini sangat sederhana: pendapat, pikiran, atau pendirian. Namun terkadang kita sebagai seorang guru misalnya menganggap menulis sebuah karya tulis opini sebagai sebuah pekerjaan super berat lagi sulit. Padahal jika meninjau pada pengertian opini menurut KBBI tadi, seharusnya menulis opini bisa lebih mudah daripada yang kita bayangkan.
 

Dalam kehidupan sehari-hari pun sebenarnya kita sudah terbiasa untuk menghasilkan opini. Ketika ditanya ; “eh mie ayam di depan sekolah kita itu enak tidak?” Kita pasti akan menjawab dengan mudah. Enak atau tidak. Sederhana dan kelihatan tidak bisa menjadi sebuah opini bukan? Namun jika digali lebih lanjut jawaban dari pertanyaan tersebut menyimpan segudang alasan dan pendapat pribadi kita mengenai mie ayam yang ditanyakan. Jika kita menjawab “enak” kita bisa mengungkapkan berbagai alasan mengapa kita menyukai mie ayam tersebut. Mulai dari mie ayamnya sendiri, cara penyajian, pelayanan, cara pembuatan, orang yang membuat, sampai pada kondisi warung tempat jualan mie ayam. Jika kesukaan kita akan mie ayam tersebut dijabarkan mungkin butuh waktu sepuluh sampai limabelas menit.

Sekarang coba bayangkan bila “obrolan” kita tadi direkam dan ditulis. Tentu akan menjadi sebuah tulisan yang berlembar-lembar bukan? Tidak peduli apakah kita menyukai atau tidak menyukai akan suatu hal, alasan yang mendasari pikiran kita tersebut sebenarnya bisa kita tumpahkan pada berlembar-lembar tulisan dikertas.

Hanya saja terkadang kita mungkin terkendala pada kaidah-kaidah penulisan dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun menurut saya, untuk langkah awal dalam menulis opini terkadang kita perlu melanggar aturan-aturan penulisan tersebut. Bukankah ketika awal mula berbicara bahasa Indonesia kita tidak bisa langsung berbahasa Indonesia dengan kaidah-kaidah yang baku? Seiring dengan berjalannya waktu, kita berusaha memperbaiki pola bicara kita dalam berbahasa Indonesia. Seharusnya menulis opini bisa sama mudahnya jika kita mengacu pada pengertian opini diatas. (AA)

Selamat beropini ria.



SD PANCASILA 45 Opini, Tips-Trik